Dilema Software Legal

Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) memang harus dihargai dan dihormati. Hasil karya dan penemuan-penemuan yang mempunyai pengaruh besar dalam peradaban manusia adalah buah pikiran dan kerja keras para pemikir handal. Pengorbanan mereka dalam mengkreasi sesuatu hal yang bisa bermanfaat bagi kehidupan manusia sudah sepantasnya mendapat penghargaan yang tinggi. Mereka layak mendapatkan reward atas hasil kerja mereka untuk kepentingan publik.

Dalam hal yang berhubungan dengan TIK, penggunaan software yang tidak melanggar HAKI memang penting. Sekarang ini sudah jamak diketahui bahwa hampir semua software yang terinstal pada PC ataupun laptop adalah hasil “modifikasi” tangan kreatif (bajakan, crack). Jika kita membeli laptop seharga 4 jutaan, kita sudah mendapatkan software yang terinstal sudah komplit mulai dari perangkat perkantoran hingga editing foto. Semuanya kita tinggal memakai saja. Begitu juga jika kita menginstal ulang ke tukang servis, cukup dengan membayar sekitar Rp. 75.000 saja sudah mendapatkan software yang siap pakai. Sangat murah bukan?

Namun permasalahannya adalah bahwa software-software tersebut ternyata juga mempunyai lisensi, dan pihak pengembang sudah menetapkan sejumlah harga untuk lisensi tersebut. Bisa dikatakan bila kita hendak memakai software tersebut maka kita harus membeli lisensi sesuai dengan harga yang ditetapkan pengembang. Jika kita memakai software tersebut tanpa melewati proses pembelian lisensi maka bisa dikatakan bahwa kita menggunakan software tersebut secara ilegal atau tidak sah. Karena penggunaannya tidak sah, maka kita bisa saja mendapat masalah hukum terkait dengan pelanggaran hak cipta.

Sekarang kita lihat kondisi saat ini, apakah software yang terinstal pada PC ataupun laptop Anda adalah software legal? Jawabannya pasti : tidak semuanya. Lihat Windows Anda, apakah Anda punya lisensi kepemilikan?

Mengapa hal ini terjadi? Jawabannya klasik : harganya mahal. Kita tahu berapa harga 1 keping DVD Windows 7, berapa harga 1 keping CD Microsoft Office, harga 1 keping CD CorelDraw, 1 keping CD Adobe Photoshop, dan CD-CD yang lain. Lalu berapa total harga yang Anda bayar untuk kepemilikan laptop lengkap dengan software siap pakai yang sehari-hari Anda gunakan? Kalau mau jujur, maka Anda harus mengeluarkan biaya lebih dari 10 juta untuk membeli sebuah laptop spesifikasi standar dengan software yang siap pakai. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Dengan budget kurang dari 4 juta, Anda bisa mendapatkan sebuah laptop dengan prosessor keluaran terbaru.

Permasalahan software ini merupakan suatu dilema. Di satu sisi kita ingin menggunakan software secara legal, di sisi lain kita terbentur masalah mahalnya harga software tersebut. Problem ini akan terus berlanjut selama para pengembang masih menetapkan harga tinggi atas lisensi software mereka. Saat ini kita masih menyiasati permasalahan tersebut dengan menggunakan software yang gratis dan murah. Dan kita semua berharap suatu saat nanti semua bisa menggunakan software secara legal. Dukungan pemerintah mutlak diperlukan.

8 Responses to Dilema Software Legal

  1. M Mursyid PW says:

    Tdk ada software terbaik digratiskan, Pak. Kalau saya, sepanjang kita tidak menggunakan software tersebut utk kepentingan bisnis it’s still ok.
    Kok gak ikutan lomba blog, pak? Utk blog sekolah sy juara 2, blog guru baru besok (senin) diumumkan.

    • Ya sebenarnya si agak bingung juga, Pak. Pemerintah sudah menginstruksikan penggunaan software legal. Tapi yang legal dan bagus mesti harganya mahal. Jadi saat ini msh setia pake yg bajakan. Harap maklum, Pak.
      Klo blog ini belum siap diikutkan lomba, soale masih anyar, artikelnya belum lengkap. Dan administrasinya belum ada. Mungkin tahun depan, Insya Allah….
      Terimakasih atas supportnya.
      Selamat atas keberhasilan SMP 1 Karangdadap dalam lomba blog sekolah. Semoga yang lain ikut termotivasi. Salam Kreatif…!

  2. M Mursyid PW says:

    Lho kok lama gak di-update ni blog, Pak.
    Hayo bangun…!

  3. Mustofa says:

    Memang kalau kita membeli software asli mahal harganya pak, banyak masyarakat Indonesia yang lebih milih bajakan atau crack daripada aslinya….gk hanya software saja, cd lagu maupun film juga banyak dibajak… maklum masyarakat kita tidak dapat menikmatinya kalau tidak pakai bajakan…..salam kenal pak

    • Ya mau bagaimana lagi, negara2 kapitalis kan hanya mementingkan keuntungan dirinya sendiri. Sedangkan para cracker ibarat Robin Hood yang membagi2 kan software hasil crack mereka secara gratis, adalah musuh besar pengembang software.
      Aku punya teman di Tulis, namanya Purwanti.

  4. anita says:

    pake bajakan kok ngaku…hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: