Tradisi Nyumbang

Resepsi pernikahan adalah hal yang lumrah dilakukan pasangan pengantin baru untuk merayakan hari bahagia mereka. Ada beberapa hal pokok yang terdapat dalam resepsi pernikahan diantaranya adalah makanan dan jajanan enak, dekorasi, musik dan amplop sumbangan. Ketika mulai memasuki tempat perhelatan acara, para tamu undangan disuguhi rangkaian dekorasi khas pernikahan yang biasanya terbuat dari janur kuning. Para among tamu pun segera berdiri untuk menyalami para tamu undangan yang datang dengan dihiasi senyum di wajah mereka. Setelah menulis nama di buku daftar tamu, lipatan amplop segera berpindah tempat dari saku menuju si “gentong semar” yang biasanya terletak di sebelahnya. Setelah registrasi selesai, para tamu undangan dipersilakan menikmati hidangan dan hiburan yang disediakan panitia acara.

Itulah sekelumit gambaran yang sering saya alami ketika menghadiri resepsi pernikahan. Wajar mereka merayakan hari istimewa dengan hal yang istimewa pula. Makanan enak, musik, dekorasi yang indah, tata rias yang semok, semua itu diwujudkan sebagai ungkapan kebahagiaan bersatunya dua insan dalam sebuah ikatan pernikahan.

Namun ada satu yang mengusik hati nurani saya yang paling dalam yang sampai saat ini masih bergejolak mencari arah kebijaksanaan, yaitu tradisi nyumbang. Tak bisa disangkal, nyumbang adalah hal wajib yang harus dilakukan para tamu undangan dalam menghadiri pesta pernikahan. Amplop berisi sejumlah uang adalah benda yang harus disiapkan sebelum kita berangkat menuju lokasi undangan. Dan si “gentong semar” meskipun mulutnya sempit, siap melahap semua amplop yang masuk.

Secara kasar, nyumbang diartikan sebagai sodaqoh. Sodaqoh adalah memberikan sebagian harta kita kepada orang lain yang dipandang masih kekurangan dengan didasari rasa ikhlas. Keikhlasan adalah kunci utama dari sodaqoh. Kita melihat ada saudara atau teman kita yang kekurangan, dengan didasari rasa ikhlas maka kita sedekahkan sebagian harta kita untuk membantu saudara atau teman kita tersebut. Artinya sodaqoh kita hanya pantas diterima oleh orang-orang yang benar-benar membutuhkan. Maka jika makna sodaqoh kita terapkan dalam resepsi pernikahan, sangat kontras. Dengan dekorasi indah, makanan enak dengan jumlah melimpah, dan segala hal yang lebih, rasanya tidak pantas mereka masuk kategori orang-orang yang kekurangan. Apalagi jika yang menyelenggarakan pesta adalah orang yang dipandang mampu dari segi ekonomi. Mereka pasti merencanakan pesta dengan segala kemewahan yang bisa mereka lakukan. Para tamu undangan pun tidak semuanya dalam kondisi sehat ekonomi. Tidak sedikit yang ekonominya pas-pasan.

Kondisi yang bertolak belakang ini membuat saya berpikir, pantaskah lembaran uang yang saya peroleh dengan perjuangan saya berikan kepada orang yang lebih mampu dari saya? Keikhlasan saya langsung sirna manakala berhadapan dengan situasi tersebut. Mereka yang menyelenggarakan pesta pernikahan dengan segala kemewahan dan para tamu undangan yang berlomba-lomba menebalkan amplopnya untuk disumbangkan, bagi saya ibarat menggarami lautan. Miris hati saya melihat pemandangan seperti itu.

Namun, itu semua adalah bagian dari tradisi masyarakat yang secara turun-temurun diwariskan oleh generasi berikutnya. Tiap-tiap daerah punya cara yang berbeda dalam melaksanakan tradisi nyumbang. Itulah bagian dari sosialisasi kemasyarakatan yang kental dengan nuansa tradisional yang menjunjung tinggi makna kebersamaan, toleransi, tepo seliro, guyub rukun, mikul dhuwur pendem jero, dan lain sebagainya. Semua itu adalah aturan tidak tertulis yang harus ditaati semua individu. Tradisi sudah mengakar kuat dan rasanya sangat tidak mungkin untuk dirubah. Lalu bagaimana kita menghadapi hal ini?

Semua berpulang pada pribadi dan individu masing-masing. Menentukan sikap diri adalah hal yang bijaksana daripada melawan arus secara frontal. Sudut pandang kita sendirilah yang nantinya akan berbicara. Dan tentu saja, kita harus berani menghadapi resiko yang akan kita hadapi atas semua kebijakan dan sikap yang kita ambil. Oleh karena itu, percayalah pada hati nurani Anda sendiri, bukan omongan orang lain.

16 Responses to Tradisi Nyumbang

  1. kusyardi says:

    Tradisi nyumbang adalah kearifan lokal yang layak kita lestarikan. Saya kira yang utama adalah kehadiran kita, bukan tebal tipisnya amlop yang kita bawa. Ada yang bilang begini: Ingin panjang usia, rajin-rajinlah nyumbang!

  2. Zulmasri says:

    Kalau mau bijak ya, lihat dulu yang ngadain acara itu siapa. Kalau berkemampuan, isi amplopnya tipis saja. Tapi kalau kurang mampu, bolehlah nilai nominalnya lebih tinggi

  3. Di desa sy malah lbh parah lg, bkn nyumbang namanya. Tp lbh pas nya dikatakan nitip. Kalo ngsih amplop berisi 100 rbu mslnya, hrus dikembalikan 100 rbu jg..bgtu jg yang nilai nominalnya tipis.

  4. kasadi says:

    Banyak teman , banyak rejeki

  5. anita says:

    wes diikhlaskan aja… niati shodaqoh ntar bisa kembali lebih banyak…hehehe

  6. Lha…? Kan aku sdh bilang, shodaqoh itu untuk mereka yg benar2 membutuhkan…

  7. Acmad says:

    mas, kalo sy malah dah bawa amplop tapi lupa ngasihkan. hari Minggu kemarin, masi inget terus waktu salaman mau pulang cuma tangan kosong. padahal amplop udah siap di saku. inget pas udah pulang.

  8. zainal says:

    senang ada teman yang sepemikiran. . . . Meski kondangan adalah wujud interaksi sosial tapi tidak harus menjadi beban. .

  9. soetji says:

    Mas yassir saat ini saya sedang melakuan penelitian tradisi nyumbang u disertasi sy. Bg orang desa sulit keluar dr tradisi ini, bg mereka malunya gak ketulungan kalau tidak nyumbang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: