Sinetron, Tayangan Perusak Moral

Berapa waktu yang Anda habiskan di depan televisi? Apa channel televisi favorit Anda? Apa tayangan yang paling Anda suka?

Di antara sekian banyak tayangan dan program acara televisi, ternyata ada salah satu jenis tayangan yang banyak ditonton jutaan orang di seluruh Indonesia, bahkan menjadi acara favorit. Tayangan itu adalah sinetron. Booming sinetron dimulai sekitar tahun 1996. Saat itu gebyar sinetron sangat terasa. Dan seiring berjalannya waktu, sudah ribuan judul sinetron yang ditayangkan di semua stasiun-stasiun televisi swasta. Mulai dari yang hanya beberapa episode sampai yang puluhan episode. Semuanya bertujuan sama yaitu menghibur penonton layar kaca.

Namun ternyata tayangan hiburan itu juga menyimpan muatan-muatan yang tidak mendidik dan bertentangan dengan kehidupan nyata. Saya masih ingat dulu pernah sejenak menonton sinetron pada salah satu televisi swasta. Di situ diperlihatkan beraneka macam kemewahan seperti rumah mewah, mobil mewah, perabot rumah tangga mewah, dandanan mewah dan yang serba mewah sebagai settingnya. Tayangan itu jelas bertentangan dengan masyarakat kebanyakan. Kemewahan materi adalah hal utama dalam membuat sinetron, sedangkan dalam kenyataannya jauh berlawanan. Sebagian besar masyarakat Indonesia hidup dalam keterbatasan, dan kemewahan dalam tayangan sinetron adalah sebuah ironi.

Tayangan sinetron sekarang ini semakin beraneka rasa. Seperti umumnya sebuah cerita, sinetron juga menampilkan konflik antar sesama manusia. Namun konflik yang diangkat dalam sinetron adalah hal-hal yang seharusnya dihindari dan tidak sepantasnya ditayangkan sebagai tontonan. Rebutan warisan, rebutan pacar, rebutan mengasuh anak adalah konflik yang disukai para pembuat skenario. Lebih parah lagi dibumbui dengan cacian, makian, wajah bengis, mata melotot, mengumpat, bahkan dilakukan pada orang yang lebih tua. Sudah jamak ditemukan dalam cerita sinetron, bahwa sosok pembantu rumah tangga adalah orang yang mempunyai derajat rendah. Dia harus menuruti semua yang diperintahkan majikannya. Sering saya jumpai dalam adegan sinetron, seorang anak majikan yang mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar pada seorang pembatu yang sudah tua hanya karena kesalahan sepele seperti menumpahkan minuman. Anda bisa bayangkan bagaimana seorang anak berani berkata kasar pada orang yang lebih tua. Sangat jelas itu tayangan yang tidak beradab!

Lebih menyakitkan lagi saat saya melihat sinetron yang berlatar belakang lingkungan sekolah. Cerita utama yang diangkat adalah masalah percintaan anak sekolahan. Mereka yang seharusnya belajar malah asik dengan urusan pacaran. Bukan prestasi yang dijadikan tujuan mereka ke sekolah, tapi mencari pacar. Dan ironisnya, sosok guru digambarkan sebagai orang yang blo’on, dilengkapi dengan dandanan yang kaku. Pernah saya menonton adegan seorang mahasiswa yang tidak pernah masuk kuliah, datang ke kampusnya mengendarai mobil mewah mirip Ferrari. Kemudian dia masuk ke ruangan seenaknya bukan untuk mengikuti kuliah, melainkan untuk mengajak pergi pacarnya yang ternyata ada di ruangan tersebut. Nasehat dosennya pun tidak digubris, dan kemudian nyelonong saja meninggalkan ruangan sambil menggandeng pacarnya. Sungguh, pemandangan yang sangat merusak moral! Seakan-akan mengajarkan tidak perlu ada tata krama! Sangat melecehkan dunia pendidikan!

Tontonan yang seperti itu adalah racun-racun yang akan mengendap dalam alam bawah sadar para pemirsanya. Sedikit demi sedikit kesehatan moral mereka akan digerogoti oleh racun-racun tersebut. Dan kita tahu bahwa anak-anak sekarang juga banyak yang suka menonton sinetron. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di depan televisi daripada belajar atau pun kegiatan positif lainnya. Bimbingan orang tua pun tidak optimal karena ternyata mereka juga hobi dengan sinetron.

Jika tayangan macam itu yang paling ditunggu anak-anak sekarang, maka tak heran kalau tingkah laku mereka makin hari makin tidak karuan. Saat ini bukan hanya narkoba yang bisa merusak generasi bangsa, kita punya musuh baru : sinetron. Kalau sekarang kita berani dengan lantang berteriak : say no to drugs, seharusnya kita juga tak perlu takut meneriakkan : say no to sinetron.

4 Responses to Sinetron, Tayangan Perusak Moral

  1. kusyardi says:

    Benar Mas, anak-anak kita sepertinya mencandui sinetron. Sudah saatnya kita–sebagai orang tua–mulai pandai2 memilih tayangan tv yang bergizi. Bukan tayangan sampah.

    • Entah apa yang ada di pikiran para sineas kita, Pak Kus. Yang mereka tahu adalah uang, uang dan uang. Semakin banyak ditonton makin banyak pula uang yang didapat….

  2. obinhut says:

    Saya senang hollywood + korean drama, daripada sinetron, katakan TIDAK untu sinetron, jalan cerita yang kurang kualitasnya, bikin yang nonton jadi ngikut yang kurang baiknya, critanya tidak pernah jauh menyimpang dari itu2 saja, salam kenal bung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: