Sisi Lain Ujian Nasional

Di tengah carut-marutnya Ujian Nasional (UN), ternyata menyimpan sisi lain. Hari kamis yang lalu tanggal 21 April 2011, ketika saya baru saja selesai memberi pengarahan untuk ujian praktek kelas VI, datanglah serombongan mantan murid-murid saya dulu yang sekarang duduk di kelas IX SMP. Mereka datang untuk meminta doa restu dari saya dan guru-guru lain yang dulu pernah mengajar mereka agar mereka bisa lulus UN. Entah saya tidak tahu siapa yang menyuruh mereka melakukan hal itu, dari inisiatif sendiri atau disuruh guru-guru mereka di SMP.

Yang jelas, hal yang mereka (dan mungkin juga yang lain) lakukan adalah hal yang jarang terjadi saat ini. Saya pribadi melihat doa restu hanya saya temui pada papan dekorasi hajatan pernikahan saja. Hal itu mengingatkan saya pada waktu saya seusia mereka, ketika selalu mencium tangan Ibu saat berangkat sekolah. Mungkin seperti inilah yang dirasakan Ibu saya dulu.

Ketika satu persatu anak-anak didik saya mencium tangan sambil meminta doa restu agar lulus UN, dan sambil mengingat-ingat nama-nama mereka, ternyata ada nuansa lain. Seakan-akan mereka memberi pelajaran pada saya cara menjadi orang tua kelak.

Di tengah bobroknya sistematika Ujian Nasional, ternyata menyimpan sedikit embun kecerahan. Semoga mereka semua sukses dalam menempuh Ujian Nasional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: