Kertas Buram dan Pendidikan

Judul di atas mungkin akan terasa janggal, apa hubungannya kertas buram dan pendidikan? Secara fisik memang tidak ada, tapi jika dipandang dari sisi filosofis mungkin ada sedikit korelasi.

Kertas buram adalah kertas yang berasal dari sampah kertas yang tidak terpakai kemudian didaur ulang kembali menjadi kertas lagi. Kita semua pun tahu, kertas buram harganya paling murah karena kualitasnya memang yang paling rendah. Jika kita ingin menghemat anggaran untuk fotokopi, kita pasti meminta pada si tukang fotokopi untuk menggunakan kertas buram. Kertas buram memang menjadi primadona bagi yang melaksanakan program penghematan.

Untuk penggandaan dokumen secara besar-besaran, memang kertas buram adalah pilihan mutlak. Demi menekan anggaran maka dipilihlah kertas buram yang paling tipis.

Sekarang saya mencoba mengkorelasikannya dengan pendidikan. Setiap tengah semester dan akhir semester pasti diadakan ulangan. Sebutannya bermacam-macam, ada Ulangan Umum Semester (UUS), Ulangan Akhir Semester (UAS), Ujian Semester (US), dan masih banyak lagi sebutan yang lain. Soal-soal ulangan tentu harus dicetak sejumlah siswa yang jumlahnya ribuan, dengan kata lain harus digandakan dalam skala besar. Untuk pengadaan soal yang sedemikian banyak ini tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Nah, untuk menekan biaya pengadaan soal maka digunakanlah kertas dengan harga yang paling murah, pilihannya pasti jatuh pada si kertas buram…! Dengan demikian maka pengeluaran anggaran bisa ditekan sedemikian rupa sehingga pembengkakan dana bisa dihindari.

Jujur saja, sejak saya masih sekolah kelas 1 SD sampai sekarang mengajar anak-anak SD, setiap ujian akhir pasti menggunakan kertas buram. Artinya, kedigdayaan kertas buram 20 tahun (bahkan lebih) silam sampai sekarang belum tergoyahkan. Saya juga terkagum-kagum, begitu hebatnya dinasti kertas buram.

Saya jadi berpikir, untuk menyelenggarakan ujian sekolah saja pakai kertas buram, bahkan diperparah dengan kualitas cetakan yang blepotan di sana-sini, lalu mau bicara apa pendidikan kita di tingkat dunia? Di tengah gencarnya era globalisasi dan modernisasi dengan dukungan canggihnya teknologi abad 21, kita masih saja menggunakan kertas buram sebagai sarana menentukan kenaikan kelas. Dengan kualitas yang rendah, maka wajar jika output yang dihasilkan juga kurang memenuhi standar. Tidak hanya kertas ujian, kertas untuk LKS pun menggunakan kertas buram. Ternyata pendidikan kita lebih memilih sarana yang berkualitas rendah, dengan dalih terbatasnya anggaran. Kita tidak bisa menutup mata dengan keadaan yang seperti ini.

Sangat ironis mengingat ada juga pelajar dari indonesia yang berprestasi di tingkat dunia semacam olimpiade IPA. Dan kita ramai-ramai mengklaim, inilah anak negeri. Mereka sebenarnya memberi contoh, jika pendidikan dikelola dengan serius oleh yang ahli di bidangnya, pendidikan kita tentu tak akan dianggap remeh oleh negara-negara lain.

Buramnya kertas soal ujian adalah potret buramnya pendidikan di negeri ini. Kualitas rendah kertas buram adalah cerminan pendidikan kita.

Sesekali cobalah Anda pergi ke toko buku. Cari buku pelajaran yang menggunakan kertas HVS super dan lihat label harganya….

 

13 Responses to Kertas Buram dan Pendidikan

  1. Ariesetyawan says:

    Assalamualaikum Wr. Wb. Pak Yasir.
    ”Kertas Buram dan Pendidikan”, coba deh kata ”dan”-nya dihilangkan. ”Kertas Buram Pendidikan”. Maaf, kalo jujur, mau tidak mau kita harus mengakui masih ada ”sedikit” sisi buramnya dunia pendidikan di negeri tercinta kita ini.
    Nah, kalau sudah begitu… Kita berharap semoga nanti ada artikel yang berjudul ”Kertas Putih Pendidikan Tanpa Kertas Buram”, hehehe…
    Peace.

  2. Zulmasri says:

    Jujur saja, banyak hal yang harus dibenahi. Celakanya, saat yang satu dibenahi, sisi lainnya malah bikin celaka. Eh….

  3. kusyardi says:

    Diskusi yang menarik.

  4. bahtiyarzulal says:

    … itu masih ada sisi positifnya, memakai kertas buram
    asal jangan isi/tulisan yang ada di kertas buramnya yang ikutan jadi buram… jika itu terjadi ya bencanalah…

  5. User says:

    Kalo Negara bole berhemat, anak didiknya dikasih boleh contekan aja pak, biar naik kelas semua.. kan jadi hemat bareng-bareng. “teman sebangku anda adalah sahabat bukan lawan/musuh” budayakan contekan yuuk.. budayakan musyawarah yuuk aah..

  6. simiakt5 says:

    kalau begitu, bagaimana dengan nasib hutan kita?

  7. simiakt5 says:

    Hanya ingin mencurahkan pendapat saya mengenai tulisan Bapak di atas. Menurut saya, tidak peduli mau kertas buram, HVS, kertas foto sekalipun yang mengkilat, kalau isinya bagus, kenapa tidak. Orang bilang “Don’t judge the book by the cover”. Lagipula ada untungnya juga pakai kertas buram, sekalian meminimalisir penebangan pohon di hutan untuk pembuatan kertas.
    Yaah, namanya juga tulisan seseorang, pasti ada pro dan kontranya.
    Terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: