Guru Tidak ICT Literate (Melek TIK), Hanya Masalah Kemauan

Pergeseran kebudayaan dan peradaban saat ini menuntut kita para guru untuk mengikuti kemana arah arus globalisasi mengalir. Guru, seperti banyak yang di-akronimkan digugu lan ditiru, adalah simbol pintu pengetahuan di mata masyarakat. Guru adalah tempatnya bertanya tentang segala ilmu pengetahuan. Di daerah-daerah terpencil, posisi seorang guru bisa menjadi sedemikian sakral karena mereka seakan-akan mengetahui apa yang masyarakat tidak ketahui. Apa saja bisa ditanyakan pada guru. Mulai dari sekedar pelajaran sekolah, politik, ekonomi, pemerintahan, dan lain sebagainya. Dan pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab dengan meyakinkan oleh para guru yang menjadi nara sumber. Bisa dibayangkan, betapa cerdasnya seorang guru. 

Di jaman yang serba canggih ini, peranan teknologi menjadi semakin terasa dalam menunjang profesi seorang guru. Pengetahuan yang memadai tentang teknologi mutlak dikuasai oleh guru, sehingga jika ada pertanyaan dari masyarakat tentang seluk-beluk teknologi paling tidak lidah para guru tidak kelu untuk bicara tentang teknologi.

Permasalahannya adalah apakah semua guru sudah melek teknologi? Dari pengalaman yang saya alami sampai detik ini, ternyata masih banyak yang gelap langkah dalam penguasaan TIK. Mayoritas dialami oleh guru tua-tua angkatan 75-80 an. Dan yang menggelisahkan, dialami juga oleh sebagian guru yang muda-muda, yang nota bene masih mempunyai banyak kesempatan.

Mengapa mereka sampai tidak melek TIK? Apakah mereka tidak mempelajari TIK? Dari pertanyaan itu dapat disimpulkan, untuk bisa melek TIK harus belajar. Di sinilah inti pokok permasalahan, karena mempelajari suatu ilmu pengetahuan membutuhkan satu kunci penting, yaitu kemauan. Tidak hanya mempelajari TIK, tapi mempelajari semua hal juga butuh kemauan. Inilah yang tidak dimiliki oleh para guru yang tidak melek TIK. Selama ini banyak alasan yang diucapkan jika mereka dituntut untuk melek TIK. Mulai dari mahalnya peralatan TIK, tidak punya waktu, mikiri masalah keluarga-anak, takut jika peralatan rusak, dan masih banyak lagi alasan-alasan yang lain. Untuk guru yang tua-tua kebanyakan mereka beralasan masalah usia, “Ah, aku wes tuwo, nggo opo?” (Aku sudah tua, buat apa?). Sedangkan untuk yang guru kalangan muda-muda lebih banyak alasan yang bervariasi. Ada yang tiap hari ngelesi, ada yang tidak punya komputer, ada yang waktunya tersita untuk organisasi lain, dan berbagai macam alasan yang lain. Banyaknya alasan yang dikemukakan oleh para guru tersebut adalah cermin miskinnya kemauan untuk (sedikit lebih) maju.

Kemauan, itu yang tidak dipunyai para guru yang tidak ICT literate. Kemauan adalah inti pokok dari permasalahan ini. Kalau sudah tidak punya kemauan, jangankan guru wiyata bakti yang gajinya minim, guru yang sudah sertifikasi yang tunjangannya puluhan juta pun tidak akan melek TIK. Melimpahnya tunjangan yang mereka terima tidak akan sedikitpun teralokasikan untuk mempelajari TIK jika tidak punya kemauan. Namun jika kemauan itu begitu kuat dan didasari dengan rasa ingin tahu dan ingin maju, jangankan guru yang sudah sertifikasi yang tunjangannya puluhan juta, guru wiyata bakti yang gajinya minim pun akan mencari berbagai macam cara untuk bisa melek TIK.

Ironis rasanya jika kita melihat guru (wiyata bakti) yang penghasilannya minim begitu gigih belajar supaya bisa melek TIK, sedangkan guru yang sertifikasi dengan tunjangannya yang melimpah begitu bangga dengan ke-tidakmelek-an TIK mereka. Poin lebih bagi guru yang penghasilannya minim karena kita tahu untuk membeli peralatan komputer dan perlengkapannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit, namun mereka melakukannya karena mereka punya kemauan dan hasrat yang tinggi untuk bisa maju dengan menguasai TIK.

Coba perhatikan raut muka guru yang tidak melek TIK, adakah kemauan (untuk maju) terlihat di sana? Saya kira Anda sudah tahu jawabannya.

11 Responses to Guru Tidak ICT Literate (Melek TIK), Hanya Masalah Kemauan

  1. alfina'anita'damayanti says:

    biasanya yg sdh sertifikasi kan bs mgaji org buat ngoperasikan kmptr alias asisten bayaran….beda klo yg wiyata bhakti…boro2…buat gaji org,buat beli bensin utk transport k sklh aj gajinya blm tntu cukup,mknya mrka lbh gi2h…biar lbh hemat….ya ga?

    • Justru itu, bu. Tunjangan sertifikasi itu (seharusnya) untuk meningkatkan kemampuan profesionalisme guru, bukan untuk mbayari tukang. Dari situ kan bisa keliatan kalo mereka memang tidak punya kemauan.

  2. jumadi says:

    Artikelnya bagus lo, yo kita ramaikan blog agar bisa berbagi sesama

  3. kusyardi says:

    Tulisan yang lugas dan tedas.

  4. ainimalia says:

    Bismillah,
    salam kenal, kunjungan perdana dari guru indonesia di sekolah mayaku
    bukan guru tik tapi suka iseng:)

  5. P. Cahyono says:

    Salam kenal
    Prihatin membaca tulisan ini, yang semestinya dapat bersinergi antara SDM dengan IT nya. Ijinkan saya nyumbang informasi kunjungi http://pcahyono.blogspot.com/

    Salam kreatif…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: